Minggu, 20 November 2011

Keperawatan Medical Bedah (Makalah Diabetes Melitus)


TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II
MAKALAH DIABETES MELITUS

Dosen pengampu : Edi sampurno




Di Susun Oleh :

 ALFIANTY M. SIOLIMBONA
090100398




PRODI S1 ILMU KEPERAWATAN
STIKES ALMA ATA
YOGYAKARTA
2011



BAB I
PENDAHULUAN


A.            Latar belakang

Tn. Amir menderita DM tipe 2 datang ke rumah sakit dengan keluhan luka di tumit kaki sebelah kiri, sudah satu bulan tidak sembuh-sembuh diinformasi oleh dokter tentang diagnosa penyakit,  Tn. Amir kebingunan karena tidak mengerti apa penyakitnya.

B.            Tujuan

1.    Agar mahasiswa dapat mengerti ap itu DM ?
2.    Agar mahasiswa tahu mekanisme dari DM ?
3.    Agar mahasisiwa dapat mengerti penyebab-penyabab apa saja dapat menimbulkan DM ?


  

BAB II
PEMBAHASAN


A.            Pengertian

Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian mengenai Diabetes Melitus oleh beberapa orang ahli, diantaranya :

1.         Diabetes melitus adalah penyakit kronis metabolisme abnormal yang memerlukan pengobatan seumur hidup dengan diet, latihan, dan obat-obatan (Carpenito, 1999 : 143).

2.         Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan (1) kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan (2) berkembangnya komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis (Long, 1996 : 4)

3.         Diabetes melitus adalah gangguan kronis yang ditandai dengan metabolisme karbohidrat dan lemak yang diakibatkan oleh kekurangan insulin atau secara relatif kekurangan insulin (Tucker et all, 1992 : 401).

4.         Dibetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Price dan Wilson, 1992 : 1111)

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, saya dapat menarik kesimpulan bahwa diabetes melitus adalah penyakit kronis yang ditandai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak yang disebabkan oleh defisiensi insulin relatif atau absolut.

B.            Anatomi dan Fisiologi

1.         Anatomi Pankreas
Menurut Price dan Wilson (1992 : 430-431) pankreas merupakan organ yang panjang dan ramping. Panjangnya sekitar 6 inci dan lebarnya 1,5 inci. Pankreas terletak retroperitoneal dan dibagi dalam 3 segmen utama : kaput, korpus dan kauda. Kaput terletak pada bagian cekung duodenum dan kauda menyentuh limpa.
Pankreas dibentuk dari 2 sel dasar yang mempunyai fungsi sangat berbeda. Sel-sel eksokrin yang berkelompok-kelompok disebut asini menghasilkan unsur-unsur getah pankreas. Sel-sel endokrin atau pulau Langerhans menghasilkan sekret endokrin, insulin dan glukagon yang penting untuk metabolisme karbohidrat.
Pankreas merupakan kelenjar kompleks alveolar. Secara keseluruhan pankreas menyerupai setangkai anggur, cabang-cabangnya merupakan saluran yang bermuara pada duktus pankreatikus utama (duktus Wirsungi). Saluran-saluran kecil dari tiap asinus mengosongkan isinya ke saluran utama. Saluran utama berjalan di sepanjang kelenjar, sering bersatu dengan duktus koledokus pada ampula Vater sebelum masuk ke duodenum. Saluran tambahan, duktus Santorini, sering ditemukan berjalan dari kaput Pankreas masuk ke duodenum, sekitar 1 inci di atas papila duodeni.

2.         Konsep Fisiologis Pankreas
Menurut Corwin (1996 : 538 – 541), konsep fisiologis pankreas dibagi 2 yaitu :
ü  Fungsi Eksokrin Pankreas
1)         Sekresi Enzim Pankreas
Sekresi enzim-enzim pankreas terutama berlangsung akibat perangsangan pankreas oleh kolesistokinin (CCK), suatu hormon yang dikeluarkan oleh usus halus.
2)         Sekresi Natrium bikarbonat
Natrium bikarbonat dikeluarkan dari sel-sel asinus ke usus halus, sebagai respon terhadap hormon usus halus untuk menetralkan kimus yang asam karena enzim-enzim pencernaan tidak dapat berfungsi dalam lingkungan asam.
ü  Fungsi Endokrin Pankreas
Fungsi endokrin pankreas adalah memproduksi dan melepaskan hormon insulin, glukagon dan somatostatin yaitu oleh pulau Langerhans.
1)         Sekresi insulin
Insulin merupakan suatu hormon yang menurunkan glukosa darah (Price dan Wison, 1996 : 1109) dilepaskan pada suatu tingkat/kadar basal oleh sel-sel beta (b) pulau Langerhans. Rangsangan utama untuk pelepasan insulin di atas kadar basal adalah peningkatan kadar glukosa darah , hal ini merangsang sekresi insulin dari pankreas dengan cepat meningkat dan kembali ke tingkat basal dalam 2-3 jam. Insulin adalah hormon utama pada stadium absorptif pencernaan yang muncul segera setelah makan. Di antara waktu makan, kadar insulin rendah.
Insulin bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor insulin yang terdapat di sebagian besar sel tubuh untuk menyebabkan peningkatan transportasi glukosa (yang diperantarai oleh pembawa) ke dalam sel. Setelah berada di dalam sel, glukosa dapat segera dipergunakan untuk menghasilkan energi melalui siklus Krebs, atau dapat disimpan di dalam sel sebagai glikogen, sewaktu glukosa dibawa masuk ke dalam sel, kadar glukosa darah menurun. Insulin adalah hormon anabolik (pembangun) utama pada tubuh dan memiliki berbagai efek. Insulin meningkatkan transportasi asam amino ke dalam sel, merangsang pembentukan protein serta menghambat penguraian simpanan lemak, protein dan glikogen. Insulin juga menghambat glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru) oleh hati.
2)         Sekresi glukagon
Glukagon adalah suatu hormon protein yang dikeluarkan oleh sel-sel alpha (a) pulau Langerhans sebagai respon terhadap kadar glukosa darah yang rendah dan peningkatan asam amino plasma. Glukagon adalah hormon stadium pascaabsorptif pencernaan, yang muncul dalam masa puasa di antara waktu makan. Fungsi hormon ini terutama adalah katabolik (penguraian). Glukagon merangsang penguraian lemak dan pelepasan asam-asam lemak bebas ke dalam darah, untuk digunakan sebagai sumber energi selain glukosa.
3)         Sekresi Somatostatin
Somatostatin disekresikan oleh sel-sel delta (d) pulau Langerhans. Hormon ini mengotrol metabolisme dengan menghambat sekresi insulin dan glukagon.

C.            Patofisiologi

1.         Diabetes Melitus Tipe I ( Diabetes Melitus Dependent Insulin/DMDI )
Diabetes melitus tipe I adalah penyakit hiperglikemi akibat ketiadaan absolut insulin, biasanya dijumpai pada orang yang tidak gemuk dan berusia kurang dari 30 tahun . Diabetes tipe I diperkirakan timbul akibat destruksi otoimun sel-sel beta pulau Langerhans yang dicetuskan oleh lingkungan. Individu yang peka secara genetik tampaknya memberikan respon dengan memproduksi antibodi terhadap sel-sel beta, yang akan mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin yang dirangsang oleh glukosa. Juga terdapat bukti adanya peningkatan antibodi-antibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans yang ditujukan terhadap komponen antigenik tertentu dari sel-sel beta. Mungkin juga bahwa para individu yang mengidap diabetes tipe I memiliki kesamaan antigen antara sel-sel beta pankreas mereka dengan virus atau obat tertentu, sehingga sistem imun gagal mengenali bahwa sel-sel pankreas adalah “diri” atau self (Gambar 2.3) (Corwin, 1996 : 543 )

2.         Diabetes Melitus Tipe II (Diabetes Melitus Non Dependent Insulin/DMNDI)
DM tipe II tampaknya berkaitan dengan kegemukkan. Selain itu, pengaruh genetik yang menentukan kemungkinan seseorang mengidap penyakit ini, cukup kuat. Mungkin pula bahwa individu yang menderita diabetes tipe II menghasilkan antibodi insulin yang berikatan dengan reseptor insulin, menghambat akses insulin ke reseptor, tetapi tidak merangsang aktivitas pembawa.
Individu yang mengidap diabetes tipe II tetap menghasilkan insulin. Namun sering terjadi kelambatan dalam ekskresi setelah makan dan berkurangnya jumlah insulin yang dikeluarkan. Hal ini cenderung semakin parah seiring dengan pertambahan usia pasien. Sel-sel tubuh, terutama sel otot dan adiposa, memperlihatkan resistensi terhadap insulin yang terdapat dalam darah.Pembawa glukosa tidak secara adekuat dirangsang dan kadar glukosa darah meningkat. Hati kemudian melakukan glukoneogenesis, serta terjadi penguraian simpanan trigliserida, protein, dan glikogen untuk menghasilkan sumber bahan bakar alternatif. Hanya sel-sel otak dan sel darah merah yang terus menggunakan glukosa sebagai sumber energi efektif. Karena masih terdapat insulin, maka individu dengan diabetes tipe II jarang hanya mengandalkan asam-asam lemak untuk menghasilkan energi dan tidak rentan terhadap ketosis.

3.         Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap diabetes. Sekitar 50 % wanita pengidap kelainan ini akan kembali ke stastu nondiabetes setelah kehamilan berakhir. Penyebab diabetes gestasional dianggap berkaitan dengan peningkatan kebutuhan energi dan kadar estrogen dan hormon pertumbuhan yang teru-menerus tinggi selama kehamilan.

D.            Gambaran Klinis Diabetes Melitus

Menurut Corwin (1996 : 546 – 547), terdapat 5 buah gambaran klinis dari DM, yaitu :
1.         Polifagia (peningkatan rasa lapar) akibat keadaan pascaabsorptif yang kronik, katabolik protein dan lemak, dan kelaparan relatif sel-sel. Sering terjadi penurunan berat badan.
2.         Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat besar dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH dan menimbulkan rasa haus
3.         Poliuria (peningkatan pengeluaran urin), pada orang nondiabetes, semua glukosa yang difiltrasi ke dalam urin akan diserap secara aktif kembali ke dalam darah. Pengangkut-pengangkut glukosa di ginjal yang membawa glukosa keluar urin untuk masuk kembali ke darah akan mengalami kejenuhan dan tidak dapat mengangkut glukosa lebih banyak. Karena glukosa di dalam urin memiliki aktivitas osmotik, maka air akan tertahan di dalam filtrat dan diekskresikan bersama glukosa dalam urin sehingga terjadi poliuria.
4.         Rasa lelah dan kelemahan otot akibat katabolisme protein di dalam otot dan ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi. 
5.         Peningkatan angka infeksi akibat peningkatan konsentrasi glukosa di sekresi mukus, gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik.

E.             Klasifikasi Etiologi Diabetes Melitus (American Diabetes Association 1997)

Secara ilmiah, penyebab diabetes dapat dikarenakan kurangnya produksi zat insulin atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap zat insulin. Hal ini akan mengakibatkan kadar glukosa pada makanan tidak dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh. Akibatnya kadar gula dalam darah akan terus meningkat.

Mengapa tubuh seseorang tidak dapat mengeluarkan atau tidak senseitif lagi terhadap zat insulin dan akhirnya dinyatakan positif diabetes?
Dr Kamandanu menjelasakan bahwa penyakit diabetes disebabkan oleh 2 hal yaitu, kelebihan mengonsumsi gula sehingga terjadi kenaikan gula darah dalam tubuh atau karena faktor keturunan -diabetes termasuk jenis penyakit yang menurun.
Gaya hidup yang tidak sehat dan pola makan yang buruk dapat menjadikan pemicunya. Karena pola makan yang tidak baik menyebabkan tidak ada keseimbangan antara karbohidrat dan kandungan lain yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Akibatnya kandungan gula dalam tubuh jadi tinggi melebihi kapasitas kerja pankreas. Atau bisa juga dari konsumsi makanan dan minuman yang tidak bersih dan di masak secara sembarangan.
Diabetes juga dapat disebabkan oleh faktor keturunan (gen). Jika orang tua kita menderita diabetes, kemungkinan besar kita juga akan terkena resiko diabetes. Karena penyakit ini menurun lewat gen. Jadi jika orang tua kita ada riwayat diabetes kita harus berhati-hati agar kita tidak terkena penyakit ini- kita harus menjaga tubuh dengan pola hidup sehat, mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula secukupnya.
Penyebab-penyebab diabetes diuraikan secara lebih lengkap oleh Dr. Ahani dalam blognya. Berikut sebagian tulisan Dr. Ahani yang dikutip gambar_hidup agar Anda dapat lebih memahami secara lengkap.

Penyebab diabetes mellitus sebenarnya bisa dengan berbagai macam cara misalnya:
1.         Genetik atau Faktor Keturunan
Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diawariskan, bukan ditularkan. Anggota keluarga penderita DM (diabetisi) memiliki kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita DM. Para ahli kesehatan juga menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya.
2.         Virus dan Bakteri
Virus penyebab DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel beta. Diabetes mellitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup berperan menyebabkan DM.
3.         Bahan Toksik atau Beracun
Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan, pyrinuron (rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari singkong.
4.         Nutrisi
Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) merupakan faktor resiko pertama yang diketahui menyebabkan DM. Semakin berat badan berlebih atau obesitas akibat nutrisi yang berlebihan, semakin besar kemungkinan seseorang terjangkit DM




F.             Skema terjadinya DM








G.            Pohon Masalah Dari DM
































H.            Rumuskan Masalah Keperawatan Dengan Pendekatan Proses Keperawatan




  


I.               Tinjauan Teoritis Tentang Asuhan Keperawatan

1.         Assesment/Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan and merupakan suatu proses ayng sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Iyes et all, 1996 : 17)
Menurut Rumahorbo (1996 : 105-105), pada klien dengan diabetes; tipe diabetes, kondisi klien, dan rencana pengobatan adalah pengkajian yang harus dilakukan. Pengkajian secara detail adalah sebagai berikut :
ü  Riwayat atau adanya faktor risiko :
Riwayat keluarga tentang penyakit, obesitas, riwayat pankreatitis kronik, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kilo, riwayat glukosuria selama stress (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi,.penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretik tiazid, dan kontrasepsi oral).
ü  Kaji terhadap manifestasi DM 
Poliuri, polidipsi, polifagia, penurunan berat badan, pruritus vulvular, kelelahan, gangguan penglihatan, peka rangsang dan kram otot.
ü  Pemeriksaan Diagnostik
Tes Toleransi Glukosa (TTG), gula darah puasa (FBS), glikohemoglobin HbA1c, urinalisis, kolesterol dan kadar trigliserin. Diagnosis DM dibuat bila gula darah puasa di atas 140 mg/dL selama 2 atau lebih kejadian dan pasien menunjukkan gejala-gejala DM. Juga diagnosis dapat dibuat bila contoh TTG selama periode 2 jam dan periode lainnya (30 menit, 60 menit atau 90 menit) melebihi 200 mgh/dL.
ü  Kaji pemahaman pasien tentang kondisi, tindakan, pemeriksaan diagnostik dan tindakan perawatan diri untuk mencegah komplikasi.
ü  Kaji perasaan klien tentang kondisi.

2.         Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon (status kesehatan/respon perubahan pola), dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000 : 35). Pengertian yang lain dari Diagnosa Keperawatan dikemukakan oleh Gordon (1976) yaitu masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan, dan pengalamannya, dia mampu dan mempunyai kewenangan untuk memberikan tindakan keperawatan.

3.         Diagnosa keperawatan dibuat berdasarkan analisa data pasien. Berikut adalah beberapa diagnosa keperawatan yang terdapat pada klien dengan DM (Hotma Rumahorbo, SKp, 1997 : 106) :
ü  Defisit volume cairan.
ü  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
ü  Risiko tinggi terhadap infeksi.
ü  Risiko tinggi terhadap perubahan sensorik perseptual.
ü  Keletihan.
ü  Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan.
ü  Ketidakberdayaan.
ü  Risiko terhadap inefektif penatalaksanaan regimanb terapeutik (individual).

4.         Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana Keperawatan diartikan sebagai suatu dokumentasi tulisan tangan dalam menyelesaikan masalah, tujuan, dan intervensi.
Berikut ini akan dipaparkan beberapa rencana tindakan keperawatan dari 2 buah diagnosa yang sering muncul.
ü  Diagnosa Keperawatan
Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Tujuan
1)         Klien akan :
o    Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit
o    Mengidentifikasi hubungan tanda atau gejala pada proses penyakit dan menghubungakan gejala dengan faktor penyebab.
o    Dengan benar melakukan prosedur yang bdiperlukan dan menjelaskan rasional tindakan.
o    Melakukan perubahan gaya hidup yang diperlukan dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
2)         Intervensi :
o    Ciptakan lingkungan saling percaya dan bekerja dengan pasien dalam menata tjuan belajar yang diharapkan.
o    Pilihlah berbagai strategi belajar dan diskusikan topik-topik penting.
o    Dislusikan tentang rencana diet.
o    Reviuw regimen pengobatan dan pemberian insulin mandiri serta perawatan peralatan.
o    Pemeriksaan gula darah setiap hari, buat jadwal latihan/ aktiovitas yang teratur.
o    Identifikasi gejala hipoglikemi dan instruksikan pentingnya perawatan kaki.
o    Tekankan pentingnya pemeriksaan mata.
o    Diskusikan mengenai fungsi seksual dan identifikasi sumber-sumber yang bada di masyarakat.
ü  Diagnosa Keperawatan 2
Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan penyakit jangka panjang atau progresif yang tidak dapat disembuhkan, ketergantungan dengan orang lain :
Tujuan
1)         Klien akan :
o    Mengakui perasaan putus asa.
o    Mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan.
o    Membantu dalam merencanakan perawatannya sendiri dan secara mandiri mengambil tanggungjawab untuk aktivitas perawatan diri.
2)         Intervensi :
o    Anjurkan pasien/keluarga untuk menekspresikan perasaannya tentang perawatan di rumah sakit dan penyakit secara umum, akui normalitas perasaan.
o    Identifikasi lokus kontrol dan berikan kesempatan pada orang terdekat untuk mengekspresikan kekuatirannya.
o    Pertegas tujuan/harapan dan tentukan apakah telah terjadi perubahan hubungan dengan orang terdekat.
o    Beri dorongan untuk membuat kepoutusan yang berhubungan dengan perawatan.

o    Dukung partisipasi dalam perawatan diri dan berikan umpan balik positif untuk upaya yang dilakukannya.

Kamis, 17 November 2011

Paper Penerapan Smart Card di Indonesia

by : Kelompok 2


Abstrak

Smart Card dapat melindungi informasi anda dengan algoritma enkripsi yang canggih dan dapat memungkinkan akses hanya oleh pembaca yang berwenang. Teknology smart card juga memungkinkan pengguna Multi-Faktor Authentication, yang membutuhkan pengguna untuk mengakses keamanan kedua seperti Private Identivication Number (PIN), atau Biometric (misalnya sidik jari, retina mata, suara, dll) untuk memungkinkan akses ke informasi pribadi anda. Semua Smart Card memiliki kemampuan untuk menyediakan authentication yang kuat, tanda tangan digital dan kemampuan enkripsi.

A Smart Health Carddapat memudahkan pertukaran informasi yang aman dan praktis yang terjadi pada informasi kesehatan, yang memungkinkan pasien untuk memanfaatkan catatan kesehatan pribadi mereka dalam setiap saat dalam bentuk yang mudah dan lengkap. Selain untuk Identifikasi, Demografi, dan informasi Asuransi, smart health card juga dapat menyimpan berbagai informasi medis, termasuk daftar masalah kesehatan, Alergi, Imunisasi, obat yang digunakan, hasil Lab, dan laporan kesehatan terakhir.
Meskipun memiliki berbagai kelebihan seperti ini, smart card di indonesia masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut mengingat masih belum adanya peraturan yang melindungi dan mengijinkan penggunaan smart card di indonesia

Kata Kunci : Smart Card, Rumah sakit, Smart Health Card,


Rabu, 16 November 2011

Presentasi Smart Card

by ; kelompok 2



Abstrak
Smart Card dapat melindungi informasi anda dengan algoritma enkripsi yang canggih dan dapat memungkinkan akses hanya oleh pembaca yang berwenang. Teknology smart card juga memungkinkan pengguna Multi-Faktor Authentication, yang membutuhkan pengguna untuk mengakses keamanan kedua seperti Private Identivication Number (PIN), atau Biometric (misalnya sidik jari, retina mata, suara, dll) untuk memungkinkan akses ke informasi pribadi anda. Semua Smart Card memiliki kemampuan untuk menyediakan authentication yang kuat, tanda tangan digital dan kemampuan enkripsi.

A Smart Health Carddapat memudahkan pertukaran informasi yang aman dan praktis yang terjadi pada informasi kesehatan, yang memungkinkan pasien untuk memanfaatkan catatan kesehatan pribadi mereka dalam setiap saat dalam bentuk yang mudah dan lengkap. Selain untuk Identifikasi, Demografi, dan informasi Asuransi, smart health card juga dapat menyimpan berbagai informasi medis, termasuk daftar masalah kesehatan, Alergi, Imunisasi, obat yang digunakan, hasil Lab, dan laporan kesehatan terakhir.

Meskipun memiliki berbagai kelebihan seperti ini, smart card di indonesia masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut mengingat masih belum adanya peraturan yang melindungi dan mengijinkan penggunaan smart card di indonesia
Kata Kunci : Smart Card, Rumah sakit, Smart Health Card


Download Shared4u

Kamis, 10 November 2011





UP DATE KESAKTIAN PANCASILA

                                                  Oleh : Muhamad Faisal Pataha, S.Kom
                                                     E-Mail : mfaisalp161@gmail.com


            Latar Belakang


bagaimana cara mengupdate kesaktian pancasila pada genari muda di era informatika  ?

Kesaktian Pancasila sudah tidak dapat kita bantah lagi kesaktiannya hal itu telah terbukti sejak dulu sampai sekarang ini, Pancasila merupakan ideologi bangsa yang harus kita junjung tinggi keberadaannya dan harus kita jaga dengan titik darah terakhir kita sebagai generasi muda penerus perjuangan generasi sebelumnya. Dengan pancasila mereka telah mempersatukan seluruh perbedaan yang ada di Negara Indonesia yang tercinta ini, dan sudah banyak ancaman yang pernah mencoba untuk mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terlalu banyak ancaman yang ditujukan untuk memecah belah persatuan negara Indonesi yang tercinta ini tetapi selalu bisa di kalahkan oleh ideologi bangsa kita yang sangat sakti yaitu Pancasila. Yang jadi pertanyaan kita saat ini apakah  pancasila itu masih bisa dikatakan  sakti ?  berdasarkan bukti nyata yang terjadi belakangan ini kesaktian pancasila mulai luntur. Salah satunya yaitu pengaruh teknologi yang telah mengancam dasar negara dan ideologi suatu bangsa, dalam hal ini dasar negara dan ideologi Republik Indonesia yang tercinta ini. Apakah hanya dengan kemajuan teknologi di era informatika saat ini dapat mengkotak – kotakan kembali Negara yang tercinta Indonesia ini untuk kali yang kesekian kalinya ? saya sebagai generasi muda Negara Indonesia yang tercinta ini, saat ini tidak akan pernah mau lagi untuk di kotak – kotakan karena dari sabang sampai merouke kita adalah satu, dengan persatuan kita akan kuat dan ditakuti oleh seluruh bangsa yang coba untuk merongrong keutuahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercinta ini.

Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila yang menjadi dasar pemersatu bangsa Indonesia yang tercinta ini dibagi kedalam lima kesaktian atau lima sila diantaranya :
1.      Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.      Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradap.
3.      Persatuan Indonesia.
4.      Kerakyatan Yang dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan / Perwakilan
5.      Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Kenapa teks pancasila saya uraikan ? itu sangat beralasan karena hampir sebagian besar generasi muda indonesia saat ini belum terlalu mengetahui atau menghafal apa lagi untuk memahaminya dan menerapkannya kedalam kehidupan sehari – hari, sebagai suatu ideologi bangsa. Hal ini merupakan ancaman secara tidak langsung terhadap persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang secara nusantara telah dipersatukan dan diwariskan kepada kita oleh generasi – generasi sebelumnya.

Di era informatika saat ini kemajuan teknologi sudah tidak dapat dibendung lagi karena hampir setiap menit pasti akan muncul ide – ide baru baik tentang pengembangan maupun penemuan berkaitan dengan suatu teknologi, hal ini dampaknya sangat luas hampir di semua bidang kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung, baik yang mengancam ataupun yang mendukung dan generasi muda sebagai unjung tombak suatu bangsa yang sangat berperan penting dalam kemajuan bangsa itu sendiri, apabila generasi mudanya buruk maka dapat dipastika masa depan negara  atau bangsa itu pasti akan buruk juga tetapi sebaliknya jika generasi mudanya baik, maka masa depan bangsa itu pun akan baik, hal itu tidak dapat kita pungkiri lagi karena nntinya yang akan melanjutkan tongkat estafet untuk memajukan bangsa ini adalah generasi muda itu sendiri, Generasi muda saat ini berbeda dengan generasi muda sebelumnya hal ini dipengaruhi oleh banyak hal salah satunya kemajuan di bidang teknologi,  yang sudah masuk ke semua sisi kehidupan generasi muda saat ini. Terutama generasi muda Negara Indonesia yang tercinta yang dapat dilihat sekarang ini nilai – nilai nasionalismenya sudah mula luntur, digantikan dengan hal – hal dari luar yang  kurang baik bahkan salah untuk diterapkan di indonesia tetapi kita sebagai generasi muda tidak bisa diam saja, harus ada sesuatu yang kita lakukan karena sesuai dengan pribahasanya “Jangan tanyakan apa yang kamu dapatkan tetapi tanyakan apa yang kamu berikan”.

Kemajuan teknologi dapan kita kelompokan menjadi dua kelompok yaitu ada sisi negatifnya tetapi ada juga sisi positifnya, hal ini dapat kita bedakan sesuai dengan dari mana sudut pandang kita memandangnya dan menyikapinya dari kemajuan teknologi itu sendiri, di era informatika saat ini kita tidak mempunyai kemampuan atau bahkan kita tidak berdaya untuk membendung apa lagi untuk menghalangi kemajuan teknologi saat ini, tapi yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita bisa  dan mampu untuk mendorong generasi muda saat ini untuk dapat mengetahui bahkan untuk mengimplementasikannya ke dalam kehidupannya sehari – hari dan bagaimana kita melibatkan generasi muda saat ini untuk turut berpartisipasi kedalam perkembangan teknologi yang terjadi. Sebagai contoh didalam artikel ini saya berikan satu contoh implementasi sederhana yang berkaitan dengan membudayakan pancasila didalam era informatika saat ini misalnya kita mendesain tamplate pada sebuah Search Engine  yang berdasarkan pengamatan saya cukup banyak digunakan oleh masyarakat indonesia saat ini. Yang kita desain dengan tema Pancasila atau tema apapun yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dari generasi muda saat ini. Oleh karena itu saya mencoba menguraikan cara pengaplikasian tamplate Pancasila ini, jangan dilihat dari tampilannya tapi dilihat dari manfaatnya sebagai sarana pemersatu dan penumbuh kembangan sikap nasionalisme generasi muda Indonesia.


Contoh pemanfaatan teknologi

Adapun cara penginstalannya adalah sebagai berikut :

  • Kemudian akan diarahkan ke Link “See all 180.000 +”
           http://www.mozilla.org/en-US/firefox/customize/#style



  • Kemudian pilih kategori Solid atau bisa langsung menggunakan bantuan Search dengan mengetikkan “pancasila”, kemudian untuk mengaktifkannya klik “Wear It”.

  •  Maka tampilannya akan berubah seperti berikut secara otomatis, dan siap unutk di gunakan seperti gambar di bawah ini.

  •   Maka tampilannya akan berubah seperti berikut secara otomatis, dan siap unutk di gunakan seperti gambar di bawah ini.

  • setelah di klik wart it maka secara otomatis akan berubah, maka dapat kita lihat tampilannya sebagai berikut.


Demikianlah uraian singkat saya mungkin jika terdapat kekeliruan atau ketidak kesesuaian bisa langsung menulis pertanyaannya di komentar yang ada pada bagian bawah.


Kita sebagai generasi muda saat ini tidak perlu takut dengan perkembangan teknologi yang terjadi pada saat ini, tetapi bagaimana kita bisa memanfaatkannya secara positif  karena hal yang sederhana merupakan suatu yang bermanfaat jika di manfaatkan secara maximal untuk kepentingan banyak orang. Contoh yang saya sampaikan diatas hanya sebagai cara kecil untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dikalangan generasi muda saat ini dengan menggunakan media sederhana dengan harapan dapat diimplementasikan oleh banyak orang karena sebenarnya masih banyak media lainnya yang dapat kita manfaatkan yang lebih canggih maupun yang lebih menarik dan semuanya tergantung kita sendiri mau berperan didalam membangun bangsa kita ke arah yang lebih baik dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada sebagai sarana untuk mengarahkan teman – teman, saudara, dan keluarga kita untuk mempertahankan keutuhan bangasa dan negara yang tercinta ini, karena kita adalah generasi muda bangsa yang wajib dan harus menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Daftra Pustaka


                         http://www.mozilla.org/
                         
                         http://www.google.com/


Rabu, 02 November 2011

Pandangan Sosio Teknis

By : http://iperpin.wordpress.com/2008/04/26/muasal-pandangan-sosio-teknis/







Saat ini sebenarnya sudah semakin sulit melihat teknologi informasi secara terpisah dari organisasi sosial. Dalam bidang perpustakaan dan informasi, teknologi dan organisasi sosial seolah-olah adalah satu. Kalau bicara ‘perpustaaan’, pasti  -haqul yaqin!- kita bicara teknologi dan organisasi (ingat, buku adalah teknologi juga!). Kalau bicara komputer untuk sistem informasi, maka hampir tak mungkin  -mustahil-  membicarakannya hanya sebagai mesin. Dengan kata lain, saat sini sebenarnya sudah sulit mengabaikan sisi pandang pandang sosio-teknis (socio technical view points).  Dalam penelitian ilmu perpustakaan dan informasi, pandangan ini sebenarnya sudah lama hadir, walau masih seperti malu-malu kucing karena kalah pamor dibandingkan pendekatan teknis-prosedural dan metode-metode positivistis.
Menurut Mumford (1999) pandangan sosio-teknis tidak dapat dilepaskan dari kajian-kajian tentang situasi di tempat kerja (work study) yang sudah berkembang sebelum ada penggunaan komputer dalam organisasi. Pada awalnya, kajian tentang kerja ini bertujuan untuk mencapai efisiensi dan rasionalisasi dalam kerangka industri yang bersifat massal (misalnya, pabrik kain tenun, industri elektronika, pabrik makanan). Di masa lampau, kajian tentang kerja ini berkonsentrasi pada penggunaan mesin seefisien mungkin, dan akhirnya seringkali terlalu ‘memihak’ kepada pemilik industri. Lalu, ketika para pekerja mulai mengeluh tentang situasi kerja, kajian menjadi lebih serius memperhatikan aspek manusia, sehingga yang muncul adalah kajian psikologi industri yang laris di tahun-tahun 60an. Ketika pabrik-pabrik mulai menggunakan teknologi komputer di tahun 1970an, para pekerja masih tetap secara hastawi (manual) melakukan kegiatan pemasukan (input) yang rutin dan membosankan. Ketika teknologi semakin maju, organisasi memerlukan lebih banyak pekerja intelektual, dan pada saat sama terjadi pula pengambilalihan pekerjaan manual oleh mesin-mesin berbasis komputer.
Lalu ada fenomena kekecewaan dan frustrasi pekerja intelektual ketika mereka diminta bekerja dalam organisasi yang tidak memberikan peluang perluasan intelektual dan kebebasan berinisiatif. Sekelompok ilmuwan di Inggris pada akhir Perang Dunia II mulai memikirkan disain organisasi yang berdasarkan prinsip sederhana saja: menggabungkan penggunaan teknologi yang efektif dengan pemanfaatan tenaga manusia yang efektif pula. Sebelum Perang Dunia II, Eric Trist, seorang ilmuwan Scotlandia, mempelajari sebuah industri perajutan karung goni dan menyimpulkan bahwa sistem teknologi dan sistem sosial saling berpengaruh secara negatif terhadap satu sama lainnya. Dia inilah yang kemudian mengembangkan pendekatan baru dalam perancangan atau disain sistem kerja, yaitu pendekatan sosio-teknis. Bersama rekan-rekannya yang sepaham, Trist lalu membentuk Tavistock Institute of Human Relations di London dan menjadi pionir bagi pengembangan teori sosio-teknis yang pada awalnya hanya berurusan dengan psikologi tempat kerja.  Ilmuwan dari berbagai disiplin, termasuk sosiolog dan antropolog, bergabung belakangan dan memberi warna baru pada pendekatan ini.
Setelah melalui berbagai proyek penelitian dalam berbagai bidang, termasuk dalam pertambangan dan industri tekstil, Tavistock Institute berhasil mengintegrasikan pandangan sosio-teknis dan memberikan empat kontribusi bagi perkembangan selanjutnya, yaitu: (1) konsep dasar tentang sistem sosio-teknis, (2) pandangan tentang organisasi sebagai sebuah sistem terbuka, (3) prinsip-prinsip pilihan organisasional, yakni adanya kebutuhan untuk memadukan sistem sosial dan teknis dengan cara yang sebaik mungkin, (4) pengakuan terhadap nilai penting kelompok otonom di dalam organisasi, dan (5) perlunya pemahaman yang lebih baik tenang masalah-masalah yang ditimbulkan perasaan terasing (alienation) di kalangan pekerja.
Dalam konsep sosio-teknis, sebuah proses kerja tida dapat dilihat sebagai dua hal terpisah yang terdiri dari sistem teknis dan sistem sosial. Keduanya harus dilihat sebagai kesatuan. Jadi, Teori Sistem Sosio-Tteknis (socio-technical systems theory) merupakan cara memandang organisasi yang menekankan keterkaitan dimensi teknis dan dimensi sosial. Teori sistem sosio-teknis mengartikan sistem sebagai selain terdiri dari unsur-unsur yang berkaitan, juga bersifat terbuka. Pengertian ‘terbuka’ di sini berkaitan dengan  lingkungan organisasi.
Sebuah sistem yang terbuka dirancang sedemikian rupa agar dimensi teknis maupun sosialnya tidak hanya berkaitan satu sama lain, tetapi juga dengan lingkungan mereka. Teori sistem sosio-teknis menganggap bahwa setiap organisasi bertujuan menjamin pekerja dan teknologi mendukung sebuah proses kerja yang selaras dengan lingkungannya.
Cherns (1976) mengembangkan prinsip-prinsip disain organisasi yang mengoperasionalkan konsep-konsep dalam teori sistem sosio-teknis. Menurutnya  prinsip ini dapat digunakan sebagai panduan saja (checklist), bukan sebagai cetakbiru (blueprint) untuk para ditaati dengan harga mati oleh para disainer. Lima prinsip terpenting di antaranya secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: 
  1. Kompatibilitas (compatibility): Proses perancangan organisasi harus sejalan dengan tujuannya. Jika memang tujuan dari sebuah organisasi dirancang untuk meningkatkan motivasi kerja, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan memanfaatkan sumberdaya kreatif anggotanya, maka diperlukan organiasi yang partisipatif-konstruktif. 
  2. Spesifikasi Kritis Minimal (Minimal Critical Specification): Spesifikasi atau persyaratan yang ketat harus terbatas pada hal-hal yang benar-benar diperlukan saja.  Walaupun dalam disain memang harus ada kepastian tentang apa yang harus dilakukan, tidak terlalu perlu selalu memastikan bagaimana sebuah kegiatan akan dilaksanakan. 
  3. Kriteria Sosio-Teknis (The Socio-Technical Criterion): Jika ada variasi atau perbedaan yang tidak dapat dihilangkan dalam suatu elemen organisasi, elemen tersebut harus dikendalikan sedekat mungkin agar menyerupai sifat aslinya. 
  4. Mendukung Kesepakatan  (Support Congruence): Harus ada disain sistem dukungan sosial, misalnya dalam bentuk insentif, untuk mempertahankan perilaku yang sesuai dengan apa yang disyaratkan atau diperukan oleh sebuah organisasi. 
  5. Disain dan Nilai Kemanusiaan (Design and Human Values): Tujuan semua disain organisasi seharusnya adalah untuk menciptakan kerja yang berkualitas tinggi. Kualitas itu sendiri adalah persoalan subjektif, dan setiap orang selalu ingin bertanggungjawab, menyukai variasi, dan mengejar pertumbuhan.
Pada intinya, teori sistem tekno-sosial mengedepankan prinsip optimatisasi bersama (joint optimization) sehingga sebuah organisasi dapat secara optimum berunjuk kerja, dan ini hanya dapat dicapai jika dimensi sosial maupun teknisnya dirancang untuk saling melengkapi. Jika sebuah disain hanya mengoptimalkan dimensi teknis saja, atau dimensi sosial saja, maka yang terjadi justru pengurangan kemampuan keduanya dalam mendukung tujuan organisasi. 
Dalam konteks disain sistem informasi, maka teori sistem sosio-teknis mendasari pendekatan perancangan yang memiliki tujuan yang berkaitan dengan kepuasan pengguna sistem, efisiensi dan kesuksesan sistem, dan manajemen perubahan yang efektif. Pada intinya, disain yang didasarkan pada teori sistem sosio-teknis menekankan pada upaya menerapkan teknologi baru tanpa melupakan isu-isu non-teknologis. Sebab itu, disain sosio-teknis sangat menaruh perhatian pada partisipasi semua pihak yang akan menggunakan atau mendapatkan manfaat dari sistem . Beberapa konsep yang kemudian berkembang melengkapi disain sosio-teknis adalah:
  • Disain Partisipatoris (Participatory Design). Sebuah pendekatan untuk perancangan dan pengembangan sistem teknologi dan sosial yang menekankan perlunya keterlibatan pengguna dan stake-holder secara menyeluruh di seluruh tahap, termasuk dalam perencanaan awal, pengujian, dan penerapan. Dikenal juga dengan Scandinavian school of design karena diawali di negara itu pada tahun 60-an dan 70-an.
  • Informatika Sosial (Social Informatics). Sebuah istilah payung yang membawahi sekumpulan riset yang mempelajari aspek sosial dari komputerisasi, termasuk dari sisi disain, penggunaan, dan konsekuensinya. Selain mengembangkan teori sosio-teknis, informatika sosial juga mengembangkan pandangan tentang masyarakat dan teknologi, serta bagaimana teknologi informasi  mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi sosial.
  • Rekayasa Kemanfaatan (Usability Engineering). Merupakan riset dan metode yang bertujuan memaksimalisasi efektivitas, efisiensi, dan kepuasan sekelompok pengguna sistem agar dapat mencapai tujuan mereka. Pendekatan rekayasa kemanfaatan ini mengutamakan kemampuan pengguna dan interaksi antara pengguna dan teknologi terutama di tingkatan antarmuka pengguna (user interface). Pendekatan ini memang lebih terfokus pada disain antarmuka dan efektifitasnya dalam mendukung tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh seorg pengguna sistem komputer.
Bacaan:
Cherns, A., (1976), “The Principles of sociotechnical design”, dalam Human Relations, Vol.2, No. 9,  hal 783-792.
Mumford, E. (1999), “Routinisation, re-engineering, and socio-technical design : changing ideas on the organisation of work” dalam Rethinking Management Information Systems : an interdisciplinary perspective, ed. Currie, W. dan Galliers, B. Oxford : Oxford University Press, hal. 28 – 44